Kaisar Jepang merupakan pemimpin keluarga kekaisaran dan kepala seremonial negara dari sistem monarki konstitusional Jepang.

Berdasarkan kontitusi tahun 1947, kaisar merupakan lambang negara dan kesatuan bangsa. Menurut sejarah, kaisar juga merupakan pemegang kewenangan tertinggi agama Shinto karena ia dan keluarganya dipandang sebagai keturunan dari dewi Matahari Amaterasu.

Kepentingannya juga menangani urusan keagamaan, termasuk ritual Shinto dan ritual seluruh bangsa.

Saat ini, pemimpin Jepang merupakan satu – satunya penguasa monarki di dunia yang gelarnya diterjemahkan setingkat dengan Kaisar.

Istana kekaisaran Jepang adalah kediaman tertua yang terus berlanjut sebagai monarki turun termurun di dunia.

Di Kojiki atau Nihon Shoki, sebuah buku mengenai sejarah Jepang selesai pada abad ke delapan, dikatakan bahwa Jepang didirikan pada tahun 660 SM oleh Kaisar Jummu.

Kaisar saat ini adalah Naruhito yang sudah berada di Takhta Krisantemum sejak dirinya dinobatkan sebagai kaisar setelah ayahnya, Akihito, turun takhta pada tanggal 30 April 2019.

Dilihat dari sejarahnya, peran Kaisar Jepang berganti-ganti antara peran simbolis seremonial dan peran seorang penguasa kekaisaran sebenarnya.

Sejak berdirinya keshogunan pada tahun 1192, Kaisar Jepang sudah jarang sekali mengambil peran sebagai panglima tertinggi dalam medan pertempuran, tidak seperti kekaisaran di Barat.

Kaisar Jepang telah hampir selalu dikendalikan oleh kekuatan politik eksternal, hingga berbagai tingkatan. Faktanya, dari tahun 1192 sampai 1867, shogun, atau bupati shikken di Kamakura (1203–1333), merupakan penguasa de facto Jepang, meskipun status jabatan mereka ditunjuk oleh Kaisar.

Setelah Restorasi Meiji pada tahun 1867, Kaisar adalah perwujudan dari semua kekuasaan yang berdaulat di dunia, sebagaimana tercantum dalam Konstitusi Meiji tahun 1889.

Status Kaisar Jepang saat ini hanya sebatas simbol negara sejak Konstitusi tahun 1947, tanpa memiliki kewenangan politik.

Sejak abad pertengahan kesembilan belas, Istana Kekaisaran disebut Kyūjō (宮城), yang kemudian dinamai sebagai Kōkyo (皇居), dan berlokasi di situs bekas Istana Edo di pusat Tokyo. Sebelumnya, Kaisar tinggal di Kyoto selama hampir sebelas abad.

Hari Ulang Tahun Kaisar (saat ini dirayakan pada 23 Februari) sebagai hari libur nasional. Gelar resmi Kaisar Jepang dalam bahasa aslinya adalah Tenno yang secara harafiah bermaksna penguasa surgawi. Gelar ini hanya dikhususkan untuk menyebut Kaisar Jepang.

Walaupun menurut catatan resmi ada 126 orang yang menyandang gelar ini sejak tahun 660 SM hingga masa kaisar Naruhito (berkuasa sejak tahun 2019), para sejarawan percaya bahwa gelar ini baru pertama kali digunakan pada masa Kaisar Tenmu (berkuasa pada 672–686 M) dan Maharani Jitō (berkuasa pada 686–697 M).

Gelar tennō tidak memandang jenis kelamin dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “kaisar” untuk laki-laki dan “maharani” untuk perempuan. Sepanjang sejarah, terdapat delapan wanita yang menyandang gelar ini, dua di antaranya berkuasa dua kali. Lihat Maharani Jepang.

Istilah lain yang juga digunakan untuk merujuk Kaisar Jepang adalah kōtei (皇帝) untuk kaisar pria dan jotei atau nyotei (女帝) untuk kaisar wanita (maharani) dan keduanya dapat digunakan oleh orang-orang Jepang untuk merujuk pada kaisar non-Jepang.

Istilah sumeramikoto juga digunakan dalam bahasa Jepang kuno. Istilah tennō digunakan sampai pada masa Abad Pertengahan, sampai pada masa tidak digunakannya gelar ini, dan kemudian digunakan kembali pada abad ke-19.

Dalam bahasa Inggris, istilah mikado (御門 atau 帝 atau みかど), secara harfiah bermakna “gerbang kehormatan,” juga digunakan untuk merujuk Kaisar Jepang, walau penggunaannya sekarang sudah dipandang ketinggalan zaman.

Itulah sejarah bagaimana kekaisaran Jepang bisa terbentuk. Semoga bermanfaat.