Sejak pemerintahan Raja Koresh Agung, Kekaisaran Akhemeniyah/Persia menjadi salah satu kekuatan terbesar Persia di Asia Selatan dan Barat Daya. Dan Pada 550 SM, Raja Koresh mengalahkan Media untuk menciptakan Kekaisaran Persia yang Pertama.
Raja Koresh sendiri adalah sosok yang pintar dalam hal taktik dan politik dan hal tersebut memungkinkannya untuk menggabungkan daerah Lydia dan Kekaisaran Neo-Babilonia ke dalam Kekaisaran Akhemeniyah/ Persia. Kemudian kekaisaraan Akhemeniyah memperluas wilayah ke mesir dengan mengalahkan kerajaan mesir ke 26.
Penataan Wilayah Yang Baik
Selain taktik dan politik, Raja Koresh sangat bijaksana dalam hal menata negara. Dia memilih untuk tidak memaksa rakyatnya mematuhi satu etnis maupun budaya. Bahkan dia mengizinkan rakyatnya untuk memiliki hak dan tanggung jawab yang sama tidak memandang etnis dan budaya mereka selama mematuhi hukum yang berlaku dan membayar upeti yang ada.
Meskipun hanya berhasil beberapa periode dan menjamin kesetiaan rakyat babilonia, kebijakan tersebut tidak bertahan lama untuk membantu menahan pemberontakan di babilonia.
Bisa dibilang pasukan Persia pertama menghabiskan banyak waktu untuk menjaga tata tertib di wilayah kekaisaran daripada bertahan untuk melindungi perbatasan kekaisaran.
Keberhasilan Kekaisaran Akhemeniyah
Tetapi pada masa kekaisaran Persia pertama melihat ada banyak kemajuan yang terjadi, Salah satunya adalah mendirikan kota Persepolis yang berfungsi sebagai ibukota kekaisaran dan menjadi rumah perkumpulan bagi raja-raja Persia yang berikutnya
Kekaisaran Akhemeniyah/ Persia pertama dipenuhi dengan kota-kota besar, kuil, makam, dan istana yang menampilkan inspirasi dari berbagai budaya yang ada , yang menjadi cerminan dari kekaisaran itu sendiri. Sayangnya, Kekaisaran Akhemeniyah.
Persia pertama berakhir pada 330 SM, sebagian besar dikarenakan upeti yang dikenakan pada rakyat dan warga negara jajahannya. setiap negeri diharapkan menyediakan barang, jasa, dan upeti hingga Rp2,7 triliun per tahunnya.
Keruntuhan Ekonomi Kekaisaran Akhemeniyah
Upeti tersebut begitu besar menyebabkan seluruh Kekaisaran Akhemeniyah mengalami krisis ekonomi yang cukup parah . Selain itu, pemerintah Kekaisaran Makedonia, Aleksander Agung, mengalahkan Akhemeniyah di tiga peperangan utama: Granicus, Issus, dan Gaugamela yang membuat pertahanan Persia terakhirnya melawan alekssander di gerbang Persia.
Ketika Aleksander Agung tiba, ia dan pasukannya dengan mudah menaklukkan tentara Akhemeniyah dan membagikan harta Persia di Persepolis untuk negeri-negeri miskin agar dapat membangun kembali kota-kotanya. Karena Aleksander mempertahankan sebagian besar penataan dalam struktur pemerintahan Persia Pertama, ia dianggap oleh sebagian orang sebagai pemimpin Achaemenid yang terakhir.
Pada tanggal 21 Maret 1935 pemimpin Dinasti saat itu mengubah nama Persia menjadi Iran.
Pergantian Nama Persia menjadi Iran
Dengan transformasi nama Persia menjadi iran. Pada saat itu pemimpin dinasti yang bernama Reza Pahlavi menginginkan agar semua etnis atau keturunan Persia bisa saling merangkul dan Bersatu. Selain itu nama Persia dianggap nama yang kurang baik, yang diartikan “Lemah” dan bisa menghambat perkembangan dinasti pada saat ancaman imperialisme dari eropa.
Nama Persia dianggap membuat rakyat saat itu berontak. antara etnis Kurds dan Turds
Masih belum bisa Bersatu secara baik dan memiliki rasa kebersamaan, Maka dari itu Nama Iran diharapkan dapat menyatukan antara kedua etnis tersebut yaitu Kurds dan Turds.
Sementara nama Iran yang artinya “ tanah bangsa Arya” dianggap sebagai kekuatan dan kemakmuran, serta symbol pembangkit, kebangkitan nasional seluruh rakyat.
Pada 1979, sebuah Revolusi besar dari Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini mendirikan sebuah Republik Islam yang membuat nama lengkap Iran sampai saat ini adalah Republik Islam Iran