Sejarah Kerajaan Ethiopia Yang Jarang Diketahui

Ethiopia adalah sebuah negara di afrika timur yang dahulunya  dikenal dengan nama Abesinia. Diberbagai peta kuno yunani dan romawi, seluruh Afrika sebelah selatan mesir dan gurun sahara ditandai dengan tanda Ethiopia.

Ini menggambarkan betapa termasyurnya Ethiopia pada zaman dahulu. Ethiopia diduga didirikan oleh Menelik I, anak Raja Sulaiman dan Ratu Saba.

Namun, sejarah kuno negeri ini tidak begitu banyak diketahui. Pada abad pertama sesudah Masehi di wilayah ini berdiri Kerajaan Aksum, tempat dinasti Sulaiman memerintah. Pada abad ke-4 wilayah ini didatangi orang Kristen, sedangkan Islam memasuki Ethiopia baru pada abad ke-7.

Mayoritas oarang Ethiopia ini adalah Yahudi. Kekaisaran Etiopia juga disebut Abyssinia yang merupakan kerajaan yang eksis dari tahun 1270 SM (dimulainya dinasti Solomon) sampai 1974 ketika monarki dijatuhkan dalam coup d’état.

Negara ini adalah satu-satunya negara Afrika (Liberia yang lain) yang berhasil melawan Perebutan Afrika oleh kekuatan kolonial selama abad ke-19.

Hunian manusia pertama kali yang ada di Etiopia diperkirakan telah ada sangat lama sekali dan diperkirakan sama umurnya dengan penemuan spesies manusia pertama yang hidup di bumi ini.

Bersama dengan Eritrea dan kawasan Timur Laut Laut Merah Pantai Sudan, bisa disimpulkan bahwa wilayah ini merupakan lokaso wilayah kaum Mesir Kuno yang disebut Punt yang sejarahnya pertama kali tercatat pada 25 SM.

Bukti – bukti permulaan pembentukkan sebuah negara sangat banyak di daerah ini, yang diperkirakan akhirnya menjadi sebuah kerajaan Abyssinia pada tahun 980, yang juga menjadi bukti awal pembentukan suatu kerajaan di wilayah ini.

Namun untuk beberapa sejarahwan, era ini lebih dianggap sebagai permulaan dari dinasti Abyssinia dibanding permulaan pendirian dari kerajaan itu sendiri.

Didirikan pada 1270 oleh bangsawan Amhara Yekuno Amlak, yang mengaku keturunan dari raja terakhir Aksum.

Kekaisaran berhasil memperluas secara signifikan di bawah Perang Salib dari Amda Seyon I (1314-1344) dan Yeshaq I (1414-1429), menjadi kekuatan yang dominan dari Tanduk Afrika.

Kematian Kaisar Iyasu II (1755) dan Iyoas I (1769) Kekaisaran memasuki periode desentralisasi, yang dikenal sebagai “Era Pangeran” dan memerintah wilayah sendiri-sendiri.

Kaisar Tewodros II (memerintah tahun 1855-1868) mengakhiri era itu, menyatukan kembali Kekaisaran dan membawa ke periode modern sebelum Ekspedisi Inggris ke Abyssinia.

Penggantinya Yohannes IV terlibat terutama dalam perang dan berhasil melawan orang-orang Mesir dan Mahdi hingga tewas dalam Pertempuran Gallabat pada tahun 1889.

Kaisar Menelik II, tinggal di kota Addis Abeba yang baru didirikan melanjutkan perluasan pendahulunya, menaklukkan banyak kerajaan di tempat yang sekarang menjadi Etiopia barat, selatan dan timur, seperti Kaffa ,Wolaytta atau Aussa.

Karena itu, ia memberi Etiopia jangkauan geografis yang dimilikinya saat ini. Di utara ia dihadapkan dengan Italia.

Dengan mengalahkannya di Pertempuran Adwa pada tahun 1896 dengan bantuan Rusia dan Prancis, Menelik melindungi kemerdekaan Etiopia dan menghalau Italia ke Eritrea .

Kemudian, setelah Perang Italia-Etiopia Kedua, Kerajaan Italia menduduki Etiopia dan mendirikan koloni Afrika Timur Italia di wilayah tersebut.

Setelah Perang Dunia II, orang-orang Italia diusir dengan bantuan tentara Inggris. Etiopia adalah salah satu anggota pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa dan pada 1962 mencaplok Eritrea.

Namun, Perang Sipil Etiopia menyebabkan kemerdekaan Eritrea dan jatuhnya Kekaisaran pada tahun 1974.

Pada 1974, Etiopia adalah satu dari tiga negara di dunia yang memiliki gelar Kaisar untuk kepala negaranya, bersama dengan Jepang dan Iran di bawah dinasti Pahlavi.

Itu adalah negara kedua ke terakhir di Afrika yang menggunakan gelar Kaisar; satu-satunya yang kemudian memakai gelar Kaisar Bokassa I dari Kekaisaran Afrika Tengah antara tahun 1976 dan 1979.

Pembahasan Mengenai Kerajaan Sriwijaya

Indonesia dulunya merupakan wilayah yang dikuasai oleh beberapa kerajaan yang bahkan sudah terkenal hingga asia, dan pada saat itu Indonesia masih bernama nusantara, beberapa kerajaan terkenal tersebut salah satunya adalah kerajaan sriwijaya.

Kerajaan Sriwijaya merupakan kerjaan maritim yang berbasis buddha, kerajaan ini merupakan kerjaan yang mengontrol perdagangan yang menggunakan jalur maritim lebih tepatnya dijalur selat malaka.

Kerajaan sriwijaya juga diketahui memiliki hubungan yang erat dengan pulau jawa, hal tersebut dikarenakan relasi antar raja dari para kerajaan tersebut sangat erat. Sriwijaya sendiri pertama kali muncul pada abad ke-7 masehi dan sampai sekarang masih menjadi pertanyaan dimana hal tersebut didasari oleh eksistensinya yang jauh lebih lambat dibadingkan kota-kota di asia tenggara pada masa itu.

Hal tersebut didukung oleh sebuah teori bahwa perdagangan antara negara Romawi-Cina-India sudah berkembang sangat jauh, dan sriwijaya yang menempati pesisir sumatera timur tersebut merupakan jalur utama dari perdagangan antar 3 wilayah tersebut, maka sangat aneh jika sriwijaya sangat lambat eksitentsinya.

Pada saat itu, sriwijaya juga menjadi pusat pembelajaran agama buddha paling besar di nusantara atau yang sekarang kita kenal sebagai Indonesia.

Diketahui juga sriwijaya memiliki hubungan yang baik dengan India dan Cina, hal tersebut didukung oleh suatu teori bahwa kerajaan sriwijaya sendiri sering mengirim salah satu pasukan mereka untuk ke Kaisar Cina sebagai tanda persahabatan dan jaminan keamanan.

Sriwijaya juga menjadi kerajaan yang menduduki hingga diluar pulau nusantara seperti Thailand Selatan, Semenanjung Malaya, bahkan hingga Madagaskar.

Pembahasan mengenai letak mereka sampai saat ini masih menjadi perdebatan para arkeolog, seorang yang bernama G. Coedes pada tahun 1918 mengatakan bahwa Sriwijaya sendiri sebenarnya kerajaan yang berpusat di Kota Palembang. Namun hal ini tidak bisa dikatakan seratus persen benar, dikarenakan penemuan tentang Kerajaan Sriwijaya di Kota Palembang bisa dikatakan masih sangat sedikit.

Lalu muncul lagi pendapat seorang yang bernama J.L Moens yang mengatakan bahwa pusat kerajaan sriwijaya sendiri berada di kedah dan kerajaan tersebut beroindah ke Muara Tikus, hal ini ia buktikan dengan menggunakan konstruksi peta Asia Tenggara menggunakan berita-berita dari Cina dan Arab.

Akhirnya karena teori-teori tersebut masih diragukan, sampai sekarang Palembang sendiri masih dianggap menjadi pusat kerajaan dari Sriwijaya. Meskipun banyak orang yang berpendapat bahwa Thailand, Jambi, Kedah, Jawa merupakan tempat pusat kerajaan sriwijaya.

Untuk pendiri kerajaan ini juga sampai saat ini masih belum ditemukan, hal tersebut karena penemuan yang ditemukan para ahli tidak menunjukkan struktur genealogis. Namun terdapat dua prasasti yang mengatakan seorang raja dari sriwijaya.

Prasasti itu merupakan Kedudukan Bukit yang menjelaskan bahwa seorang yang bernama Dapunta Hyang  dan satu lagi prasasti Talang Tuo yang lebih memperjelas nama tersebut menjadi Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Dan bedasarkan catatan pada sebuah prasasti, dijelaskan bahwa sriwijaya sendiri sudah berhasil menguasai sumatera bagian selatan, hingga bangka belitung, dan lampung.

Berikut ini adalah beberapa raja yang pernah menjabat di kerajaan sriwijaya

  1. Sri Indrawarman
  2. Raja Dharanindra
  3. Raja Samaratungga
  4. Rakai Pikatan
  5. Balaputeradewa
  6. Sri Udayadityawarman
  7. Sri Culamaniwarman
  8. Sri Marawijayatunggawarman
  9. Sri Sanggramawijayatunggawarman

Diketahui juga bahwa raja Balaputeradewa merupakan raja yang membawa kerjaaan sriwijaya mencapai puncak emasnya, dan hal tersebut berlangsung hingga raja yang ke-8 , setelahnya raja sudah berfokus terhadap perang.

Nah, itulah sekilas mengenai salah satu kerajaan terbesar di Nusantara pada saat itu. Semoga artikel ini menambah pengetahuan kamu ya.