Sejarah Terbentuknya Kerajaan Inggris

Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia Utara (bahasa Inggris: United Kingdom of Great Britain and Northern Ireland atau United Kingdom, UK), atau secara biasa dikenal sebagai Britania Raya, atau Britania, yaitu sebuah negara berdaulat yang terletak di lepas pantai barat laut benua Eropa.

Britania Raya yaitu sebuah negara kepulauan yang terdiri dari Pulau Britania Raya, bagian timur laut Pulau Irlandia dan sejumlah pulau-pulau yang lebih kecil.

Irlandia Utara yaitu satu-satunya bagian dari Britania Raya yang berbagi perbatasan darat dengan negara berdaulat lain, yaitu Republik Irlandia.

Selebihnya, perbatasan darat Britania Raya dikelilingi oleh Samudra Atlantik, Laut Utara, Selat Inggris dan Laut Irlandia.

Permukiman manusia modern yang kelak akan menjadi Britania Raya sudah terbentuk semenjak sekitar 30.000 tahun yang lalu.

Pada akhir zaman prasejarah, populasi di kawasan ini diperkirakan sudah terbentuk. Waktu ini dinamakan dengan masa Kelts Insular, yang terdiri dari Britania Britonik dan Irlandia Gaelik.

Penaklukan oleh Romawi yang dimulai pada tahun 43 SM diikuti oleh invasi pemukim Jerman Anglo-Saxon ke kawasan yang kelak akan menyusun Wales.

Beberapa besar kawasan yang dihuni oleh Anglo-Saxon disatukan menjadi Kerajaan Inggris pada abad ke-10.

Sementara itu, penutur Gaelik di Inggris barat laut (yang terhubung ke Irlandia di timur laut dan secara tradisional sudah terjadi migrasi dari sana pada abad ke-5) bersatu dengan bangsa Pict dan kemudian menyusun Kerajaan Skotlandia pada abad ke-9.

Pada tahun 1066, bangsa Normandia menyerang Inggris dan sesudah penaklukannya, Normandia berhasil merebut sebagian besar Wales, mengalahkan sebagian besar Irlandia dan menyusun permukiman di Skotlandia, yang membawa masing-masing negara hal yang demikian ke jangka waktu baru feodalisme yang berdasarkan contoh Prancis Utara dan kebudayaan Normandia-Prancis.

Kedatangan bangsa Normandia ini membawa pengaruh besar, melainkan pada akhirnya tetap sanggup berasimilasi dengan kebudayaan lokal di masing-masing negara.

Raja Inggris pada abad pertengahan berhasil mengalahkan Wales melainkan upayanya untuk mengalahkan Skotlandia mengalami kegagalan.

Setelah itu, Skotlandia tetap mempertahankan kemerdekaannya, meski kerap kali berkonflik dengan Inggris. Monarki Inggris, dalam upayanya untuk merebut koloni Prancis, juga kerap kali kali terlibat konflik dengan Prancis, terpenting dalam Perang Seratus Tahun.

Memasuki jangka waktu modern permulaan, Inggris dihadapkan pada konflik agama sebagai pengaruh reformasi dan diperkenalkannya gereja Protestan di masing-masing negara.

Wales sepenuhnya di klaim sebagai bagian dari Kerajaan Inggris, dan Irlandia diatur sebagai kerajaan dalam persatuan personal dengan Kerajaan Inggris.

Kawasan milik bangsa Gaelik Katolik yang merdeka disita oleh Kerajaan Inggris dan diberikan terhadap pemukim Protestan dari Inggris dan Skotlandia, yang berikutnya menyusun Irlandia Utara.

Pada tahun 1603, Kerajaan Inggris, Skotlandia dan Irlandia bersatu dalam penyatuan personal saat James VI, Raja Skotlandia, mewarisi mahkota Kerajaan Inggris dan Irlandia.

James kemudian memindahkan istananya dari Edinburgh ke London. Padahal demikian, setiap negara tetap menjadi entitas politik yang terpisah dan mempertahankan lembaga politik yang juga terpisah.

Pada pertengahan abad ke-17, ketiga kerajaan terlibat dalam serangkaian perang berkelanjutan (termasuk Perang Saudara Inggris) yang menyebabkan tergulingnya monarki dan terbentuknya negara republik kesatuan berumur pendek bernama Persemakmuran Inggris, Skotlandia dan Irlandia.

Padahal monarki berhasil dipulihkan kembali, hal ini menandai (dengan meletusnya Revolusi Agung pada tahun 1688) bahwa sama seperti monarki-monarki Eropa lainnya, monarki absolut tak akan menang.

Konstitusi Britania kemudian dimaksimalkan berdasarkan monarki konstitusional dan sistem parlementer.

Selama jangka waktu ini, terpenting di Inggris, berkembangnya energi angkatan laut menyokong dikerjakannya penjelajahan seberang lautan untuk menjajah dan mendirikan koloni, terpenting di Amerika Utara (lihat Imperium Britania).

Peraturan Kerajaan Inggris Yang Harus Diikuti Keluarga Kerajaan

Hidup di istana pastilah merupakan dambaan setiap orang. Apalagi jika mengingat menjadi keluarga kerajaan pasti memiliki hidup bergelimang harta.

Namun, menjadi anggota keluarga kerajaan bukan berarti kalian boleh seenaknya. Kalian tetap harus mengikuti segenap aturan tertulis dan tidak tertulis.

Aturan ini juga berlaku bagi setiap orang mulai dari ratu, anggota kerajaan yang masih muda seperti Pangeran George, hingga staf khusus kerajaan.

Jika kalian pikir menjadi seorang anggota keluarga kerajaan sangat menyenangkan, coba pikirkan lagi. Pernah terpikir apa saja aturan yang mereka jalani?

Sebagai anggota kerajaan tentu saja mereka juga dituntut untuk menjadi sempurna. Bahkan, aturan ini juga tertulis dan harus mereka ketahui. Mau tahu apa saja? yuk simak.

1.Ratu

Ratu

Saat ratu atau raja berdiri, kalian sebagai anggota keluarga juga harus berdiri. Ini merupakan protocol paling dasar yang harus kalian ikuti.

Saat di meja makan, setelah ratu menyendok suapan terakhirnya di piring, semua orang juga harus berhenti makan, termasuk kalian.

Selain itu, untuk kalian yang laki-laki, saat bertemu ratu kalian harus menundukkan leher sedangkan para perempuan harus melakukan curtsy ketika bertemu dan menyapa ratu.

2.Menikah

Menikah

Anggota keluarga kerajaan yang menikah nantinya akan mendapatkan nama baru setelah mereka menikah.

Jika membutuhkan nama belakang, mereka akan menggunakan nama belakang keluarga kerjaan yang resmi.

Misalnya Kate Middleton yang mendapatkan nama Catherine, Duchess of Cambridge setelah menikah.

Jika ia membutuhkan nama belakang untuk melakukan sesuatu, ia akan mendaftarkan namanya menjadi Catherine Mountbatten-Windsor, karena Mountbatten-Windsor adalah nama belakang keluarga kerajaan yang resmi.

Berdasarkan aturan Royal Marriages Act of 1772, keturunan keluarga kerajaan harus menerima persetujuan dari keluarga kerajaan sebelum mengajukan lamaran.

Saat akan menikah, ratu juga akan memilihkan mana tiara yang akan digunakan oleh sang pengantin perempuan di hari pernikahan. Tiara itu diambil dari koleksi pribadinya.

Urusan bunga juga diatur di dalam pernikahan. Saat keluarga kerajaan menikah, mereka harus menggunakan bunga berwarna putih bernama bunga Murad atau Myrtle.

Di Eropa, bunga ini juga terkenal di acara pernikahan. Dimana di acara royal wedding bucket bunga yang dibawa oleh sang wanita harus mengandung bunga myrtle.

Bunga ini sendiri merupakan symbol bagi dewi kecantikan, Aphrodite atau Venus oleh para warga Yunani dan Romawi. Setiap pesta pernikahan juga diharuskan untuk menampilkan sederet anak kecil.

Dulu, seorang keluarga kerajaan tidak boleh menikahi seorang penganut Katholik Roma. Namun sekarang, setiap anggota keluarga boleh menikahi penganut agama apapun.

Keluarga kerajaan juga tidak boleh melakukan voting atau bicara secara terbuka mengenai politik. Mereka bahkan tidak boleh masuk ked alam kubu politik tertentu.

3.Aturan Berpakaian

Aturan Berpakaian

Ketika keluarga kerajaan harus pergi ke luar negeri, mereka harus menggunakan pakaian serba hitam. Hal ini untuk menyiapkan diri kalau terjadi musibah dalam perjalanan mereka.

Selain itu dua pewaris takhta juga tak diperbolehkan berpergian bersama. Mereka juga tidak boleh menggunakan sesuatu yang mengandung bulu demi mengurangi perburuan hewan eksotis liar.

Raja dan ratu juga harus menggunakan sarung tangan setiap harinya. Hal ini untuk menghindari virus dan kuman agar mereka tidak sakit.

Mereka juga harus menggunakan pakaian yang sopan dan rapi dan tak boleh menggunakan pakaian kasual dalam acara apapun.

Itulah beberapa aturan yang berada di kerajaan. Selain ini tentu saja masih banyak lagi aturan yang belum sempat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.