Sistem Kekaisaran Jepang

Mengetahui Sistem Kekaisaran Jepang

Kekaisaran Jepang menjadi salah satu kerajaan tertua di dunia, dengan banyak sekali silsilah yang ada di terapkan di dalam sistem pemerintahan nya. Kerajaan Jepang ini telah ada dan didirikan sejak tahun 660 SM. Penguasa Jepang pertama adalah Kaisar Jimmu. Dari sejak lama kerajaan Jepang mengakui 136 kaisar. Namun yang menjadikan Jepang lebih banyak sekali kemajuan pasa saat kepemimpinan Kaisar Ojin yang mana kala itu memerintah pada awal abad ke-4.

Kata kekaisaran sering kali dipakai untuk menggambarkan kerajaan yang dijalankan di Jepang. Padahal jika kalian mengetahui kebenaran nya kerajaan Jepang ini memiliki sebutan aslinya yang adalah Dai Nippon Teikoku yang mana memiliki arti kata: Dai “Agung”, Nippon “Jepang” dan Teokoku “Kekaisaran”.

Kekaisaran Jepang

Kaisar Jepang yang memiliki arti dalam bahasa Jepang (Kanji) Romaji : Tenno adalah pemimpin keluarga kekaisaran. Dan juga sekaligus menjadi kepala seremonial negara dari sistem monarki konstitusional yang dianut Jepang. Sistem ini dianut pada tahun 1947, dimana kekaisaran dilambangkan sebagai kepala negara dan kesatuan bangsa Jepang. Menurut sejarah Jepang juga menyatakan jika kekaisaran juga di percaya sebagai pemegang tertinggi kepercayaan agama Shinto.

Hal tersebut di percaya masyarakat Jepang adalah keturunan yang menganut agama yang sangat kuat. Bahkan dipercaya juga mereka memiliki keturunan yang masih ada kaitan nya dengan keturunan dewi matahari “Amaterasu“. Kepentingan kekaisaran ini sangat berkaitan dengan kepentingan keagamaan dan mengurus segala sesuatunya yang berkaitan dengan keagamaan yang ada di Jepang.

Kekaisaran Jepang Naruhito

Kaisar Naruhito

Seperti yang telah kita ketahui jika kepemimpinan Jepang selalu diteruskan oleh keturunan nya. Seperti yang telah kita ketahui saat ini kekaisaran Jepang sendiri dipimpin oleh Naruhito. Dia melanjutkan kepemimpinan ayah nya yang sudah memutuskan untuk pensiun yaitu Akihito dan juga ibunya Permaisuri Michiko. Naruhito adalah satu-satunya kaisar Jepang yang megenyam pendidikan diluar negri. Dia juga satu-satunya yang dikenal dengan sistem pemerintahan dengan sistem modern.

Hal yang sangat berbanding terbalik dengan kehidupan kedua orang tuanya yang menjujung tinggi adat istiadat. Ibunya yang dulunya berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja, memilih membesarkan Naruhito dengan bantuan keluarga kerajaan ketimbang mempercayakan nya kepada pelayan istana.

Setelah Naruhito besar dan memutuskan untuk menempuh pendidikan diluar negri, orang tuanya mendukung segala keputusan yang diambil anak nya tersebut. Naruhito memilih untuk berkuliah di Inggris Oxford dan meneliti sistem dari berkembangnya sungai Thames di Inggris. Banyak sekali pengalaman hidup yang ia dapatkan selama ia berkuliah di Inggris tersebut. Dari yang awalnya ia selalu mendapatkan pelayanan kerajaan hingga semua fasilitas lengkap yang ia dapatkan dengan mudah dan cepat. Membuat ia banyak membandingkan kehidupan nya selama ia berkuliah hingga sewaktu ia masih berkuliah di Inggris. Ia berkuliah di Oxford Inggris sekitaran tahun 1983-1985.

Hidup selama 3 tahun di Inggris membuat ia banyak memiliki teman dan mengetahui banyak sekali culture yang ada di Inggris tersebut. Salah satu teman dekat Naruhito yang berasal dari Inggris dan selalu menemaninya saat ia senang dan sedang bersedih adalah George.

Sejarah Kekaisaran Yang Berlangsung

Tidak seperti kekaisaran yang ada pada bagian barat, di Jepang sendiri jika sedang menjalankan perang, pasukan yang turun kedalam medan pertempuran dan menjalankan sistem pertempuran mengatur seutuhnya oleh kekuatan politik yang berasal dari ekternal kerajaan.

Sejak abad pertengahan kesembilan belas, istana kekaisaran dikatakan Kyujo. Yang kemudian dinamai sebagai Kokyo yang mana berlokasi di situs bekas Istana Edo pada bagian pusat Tokyo. Sebelum akhirnya kaisar Tokyo tinggal disana hampir sebelas abad lamanya.

Lambang Kekaisaran Jepang

Bahasa resmi yang asli dipakai oleh masyarakat Jepang disana untuk menamai pemimpin yang berkuasa disana dulunya adalah “Kotei” untuk memanggil penguasa laki-laki. Dan panggilan “Jotei atau Nyontei” panggilan untuk kaisar wanita (Maharani). Kedua-duanya tersebut bisa digunakan dalam merujuk kepada kepemimpinan Jepang yang non -Jepang.